Teori Konflik Sosiologi

Diposkan oleh Gunandar Azikin on Jumat, 23 Desember 2011

Teori Konflik Sosiologi - Kadang-kadang di dalam suatu masyarakat, dapat dijumpai hal-hal yang dianggap baik; akan tetapi hal tersebut tidak banyak terdapat, sehingga ada golongan-golongan tertentu yang merasa dirugikan (di samping mereka yang merasa beruntung). Misal : kekayaan material, kekuasaan, kedudukan dan sebagainya. Manusia cenderung untuk berusaha segiat mungkin, agar mendapatkan hal-hal yang dianggap baik tadi. Kalau ada lebih dari satu pihak menganggap sama-sama mempunyai hak atas hal-hal yang dianggap baik tadi, maka kemungkinan besar akan terjadi suatu pertikaian atau konflik. Konflik mencakup suatu proses, dimana terjadi pertemtangan hak atas kekayaan, kekuasaan, kedudukan dan seterusnya, dimana salah satu pihak berusaha untuk menghancurkan pihak lain.
Salah satu Teori Konflik yang terkenal adalah yang dikembangkan oleh Karl Marx dan Friedrich Engles dalam Communist Manifesto (1848). Mereka mengganggap bahwa proses terpenting dalam masyarakat adalah terjadinya pertentangan klas (class struggle). Menurut mereka suatu golongan yang memerintah memiliki kedudukan tersebut, oleh karena menguasai sarana produksi yang penting bagi kelangsungan hidup masyarakat. Selanjutnya dinyatakan oleh Vander bahwa :
By controlling the means of production, a ruling class undertakes to interpose itself between the rest of the population and the means by which this population meets its biological and social needs. In this manner a ruling class renders a population vulnerable and susceptible to its wishes and dictates. It dominates the whole moral and intellectual life of a people while making government, law, and the military, science, religion, and education the whichless for entreaching its rule and its pivilage .

Baca Selanjutnya Teori Interaksi Simbolis

{ 0 komentar... read them below or add one }

Poskan Komentar